APAKABAR BOGOR – Diduga timbulkan pencemaran udara yang dihasilkan aktivitas pertambangan batu di Gunung Kapur, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor masih berlangsung hingga sekarang. Sejak belasan tahun ke belakang, warga setempat mengolah hasil tambang menggunakan bahan bakar ban bekas.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Kepala Desa Ciampea, Suparman mengakui, bahwa adanya polusi udara akibat aktivitas pertambangan itu masih terjadi hingga sekarang.

“Itu sering dibahas di berbagai forum, dan belum ada solusi dari pemerintah daerah,” ungkapnya kepada Apakabar Bogor. Rabu, 16 Juni 2021.

Menurutnya, menutup aktivitas galian C diduga tanpa ijin di Gunung Kapur bukanlah solusi. Pasalnya, ada ratusan warganya yang menggantungkan hidup dengan bekerja di pertambangan tersebut.

Sedangkan, lanjut Suparman, bagaimana nasib warganya jika aktivitas pertambangan itu ditutup. Meskipun dirinya mengakui aktifitas penambangan yang dilakukan warganya tersebut adalah salah karena telah mengeskploitasi alam tanpa izin resmi atau ilegal.

Sementara, Suparman mengatakan, tidak ada yang menjamin kehidupan ratusan warganya jika pertambangan di Gunung Kapur benar-benar ditutup.

“Solusinya mengenai polusi, bantulah Pemda untuk mencari bahan bakar tepat guna selain ban bekas, karena kalau tidak pakai ban kan kurang bagus hasilnya,” paparnya.

Menurut Suparman, harus disediakan alat yang bisa mengumpulkan asap hasil pengolahan batu agar tidak menyebar ke udara.

Pernah dirinya mengajukan hal tersebut, namun belum ada tindak lanjut dari dinas terkait hingga saat ini.

Sementara, salah satu warga pemilik tempat pengolahan hasil tambang Gunung Kapur Iyet mengatakan, dalam sehari dirinya membakar sekitar 3000 ban motor bekas atau 300 ban mobil bekas untuk mengolah batu yang akan dijadikan bahan pembuatan kapur tersebut.

“Di sini ada sekitar 20 tempat cubluk (tempat pengolahan batu) yang masih beroperasi,” tandasnya.

Terpisah Kapolsek Ciampea, Kompol Beben Susanto mengatakan, terkait masalah penambangan harus lebih di cek sejauh mana kegiatan masyarakat tersebut.

“Yang saya tahu hanya sisa-sisa saja, bukan menggali, informasinya seperti itu, tapi kita cek lagi sejauh mana kegiatan masyarakat di sana,” pungkasnya. (Haidy)