APAKABAR BOGOR – Lereng Gunung Salak di Kampung Pasir Pogor Rt 04/05, blok Cimenteng, Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, saat ini tengah diratakan menggunakan alat berat.
Namun kegiatan tersebut mendapat protes dari warga sekitar, sebab pekerjaan tersebut dikhawatirkan akan merusak tatanan alam dan ekosistem yang ada.
Sebelumnya Tokoh Masyarakat Kecamatan Cijeruk, Indra Surkana sangat menyayangkan jika pekerjaan itu dilanjutkan, maka akan berdampak pada daerah resapan air, karena dibawah lokasi tersebut ada dua sumber mata air.
“Saya yakin kegiatan itu belum mengantongi izin dari Pemerintah, Seharusnya sebelum kegiatan berlangsung proses perizinan harus ditempuh dulu,” jelasnya.
Protes serupa pun, kini datang dari arus bawah masyarakat petani, seperti yang dikatakan oleh Sukarma warga RW 05 Desa Cijeruk. Dia mengaku tidak tahu jika alat berat berada di lokasi Cut and fill, sebab tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga.
“Ah eta Doser nyaho-nyaho tos aya dilihur weh, taneuh geura diguar-guarkeun, anu mangnyaahkeun mah eta aya taneuh dibor, padahal dihandapna aya mata cai, ajang kabutuhan tani, kumaha kahareupna geura. ( Saya tidak tahu awalnya, tahu-tahu Doser sudah berada di lokasi, tanah di ratakan. Yang paling disayangkan ada kegiatan pengeboran, Padahal di bawahnya ada mata air untuk kebutuhan bertani, saya bingung kedepannya bagaimana. Red), ” ungkap Sukarman dengan bahasa Sunda.
Camat Cijeruk Hadijana, memberikan respon cepat atas adanya kegiatan itu, dia langsung mengecek kegiatan tersebut.
“Saat Pol PP ke lapangan belum bisa menunjukkan Perijinannya,” Jelas Hadijana.
Sampai berita ini diturunkan, Kepala Desa Cijeruk, Asep Saepul Rahman belum memberikan tanggapan, Padahal pesan melalui telpon selular, untuk permohonan tanggapan atas kegiatan itu sudah dilayangkan.( Wan/ash)
Baca Juga:
Thunes Luncurkan Pembayaran di Waktu Nyata ke Selandia Baru
Musim Mas Resmikan Smart Class di UINSU, Dukung Pembelajaran Digital dan Generasi Unggul 2045
Shanghai Electric Catat Kinerja Positif pada 2025, Nilai Pesanan Baru Capai Rekor Tertinggi





