APAKABARBOGOR.COM – Di usianya yang sudah senja, Maman (59) hanya bisa pasrah menjalani hidup.
Puluhan tahun tinggal di Kota Bogor, tepatnya di RT 01/RW 06 Kelurahan Rangga Mekar, Kecamatan Bogor Selatan, ia belum pernah merasakan bantuan dari pemerintah.
Sehari-hari Maman bekerja sebagai pengangkut sampah rumah tangga. Ia mengangkut sampah di tujuh rumah warga sekitar dengan upah Rp30 ribu per rumah dalam sebulan.
Dari pekerjaan itu, ia hanya mendapat Rp210 ribu. Tambahan penghasilan datang dari sebuah minimarket yang memberinya Rp150 ribu per bulan untuk mengangkut sampah. Jika dijumlahkan, pendapatan Maman hanya Rp360 ribu per bulan.
“Kadang perut ini kosong. Saya sudah terbiasa begitu. Kalau lapar, ya tahan saja,” kata Maman dengan mata berkaca-kaca.
Karena penghasilan tak cukup, Maman terpaksa meminjam uang dari bank keliling.
Setiap hari ia harus membayar cicilan Rp15 ribu. Pinjaman belum lunas, ia kembali mengajukan utang baru. Hidupnya pun seperti lingkaran tanpa ujung.
Yang membuat hidup Maman semakin sulit, ia tak punya KTP. Identitasnya hanya berupa kartu keluarga yang mencatatnya sebagai warga Rangga Mekar.
Bagi Maman, ongkos ke kecamatan untuk mengurus KTP saja terasa mustahil.
Baca Juga:
“Bikin KTP itu perlu ongkos. Saya makan saja harus utang ke bank keliling, bagaimana mau urus KTP?” ujarnya lirih.
Selama program bantuan pemerintah berjalan, mulai dari bansos, BLT, hingga bantuan lainnya, Maman tidak pernah sekalipun masuk dalam daftar penerima.
Padahal, kondisinya sangat layak untuk mendapat perhatian.
Kini, Maman hanya bisa berharap. Ia menitipkan doa dan permohonannya kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wali Kota Bogor Dedi Rachim, hingga aparat kecamatan dan kelurahan.
“Saya cuma ingin hidup tenang tanpa utang. Saya ingin merasakan jadi warga Bogor yang benar, punya KTP, dan dapat bantuan seperti orang lain. Jangan sampai saya mati dengan beban bank keliling yang tidak akan pernah lunas,” tuturnya penuh harap. (Red)





